Mayjen Bangun Nawoko, Pemimpin Baru Kodam Hasanuddin yang Siap Wujudkan Sinergi Pertahanan di Sulawesi

JAKARTA, sdkcards.com – Dalam dinamika pertahanan nasional Indonesia yang semakin kompleks, mutasi perwira tinggi TNI menjadi sorotan utama. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Mayjen TNI Bangun Nawoko, yang baru saja dilantik sebagai Panglima Kodam (Pangdam) XIV/Hasanuddin menggantikan Mayjen TNI Windiyatno. Penunjukan ini diumumkan melalui Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1334/IX/2025 tanggal 30 September 2025, sebagai bagian dari pergeseran 286 perwira TNI di tiga matra. Sebagai mantan Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 3/Kostrad, Bangun Nawoko membawa pengalaman tempur dan kepemimpinan strategis yang matang, siap memperkuat pertahanan wilayah Sulawesi dan sekitarnya. Penghargaan Bintang Yudha Dharma Pratama dari Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini semakin mengukuhkan dedikasinya. Siapa sosok di balik nama ini, dan apa visi yang dibawanya untuk Kodam Hasanuddin?

Latar Belakang dan Pendidikan Militer: Fondasi Karir yang Kokoh

Mayjen Bangun Nawoko lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan semangat bela negara, meskipun detail kelahiran dan masa kecilnya dirahasiakan sebagai bagian dari protokol keamanan TNI. Ia memulai karir militernya di Akademi Militer (Akmil) Magelang, lulus sebagai perwira pertama pada tahun 1990-an awal. Pendidikannya yang mendalam mencakup berbagai kursus elit, seperti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Sesko AD) dan pelatihan tempur di Kostrad—satuan infanteri mekanis terkuat TNI AD.

Sebagai prajurit Kostrad, Bangun Nawoko dikenal sebagai pemimpin lapangan yang tegas namun humanis. Ia pernah menjabat berbagai posisi kunci di divisi tersebut, termasuk Komandan Batalyon Infanteri (Dandim) dan Wakil Pangdivif, sebelum naik pangkat menjadi Pangdivif 3/Kostrad pada awal 2025. Di bawah komandonya, Divisi 3 Kostrad berhasil melaksanakan operasi pengamanan perbatasan dan bantuan kemanusiaan di wilayah timur Indonesia, menunjukkan kemampuan adaptifnya dalam menghadapi ancaman hybrid seperti konflik sumber daya alam dan bencana alam. Pengalaman ini membuatnya siap menghadapi tantangan di Kodam Hasanuddin, yang mencakup Sulawesi Selatan, Tengah, Tenggara, dan Gorontalo—wilayah strategis dengan potensi konflik etnis dan maritim.

Karier dan Prestasi: Dari Lapangan ke Penghargaan Nasional

Karir Bangun Nawoko adalah perpaduan antara pengabdian di medan tempur dan kontribusi strategis. Sebagai Pangdivif 3/Kostrad, ia memimpin latihan gabungan TNI-Polri di Pakkatto, Gowa, yang memperkuat sinergi antar-satuan. Kunjungan silaturahmi dari Pangdam Hasanuddin Windiyatno pada Februari 2025 menjadi momen penting, di mana keduanya membahas penguatan pertahanan wilayah perbatasan Sulawesi. Prestasi terbarunya adalah penerimaan Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma Pratama dari Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2025, selama Presidential Inspection di KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 di Teluk Jawa. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi luar biasa dalam memperkuat sistem pertahanan nasional dan menjaga keutuhan NKRI. Tokoh Sulawesi Selatan dari Laskar Sulawesi Selatan menyebutnya sebagai “cerminan ketahanan bangsa yang humanis,” menekankan bahwa kepemimpinannya menggabungkan kekuatan militer dengan nilai kemanusiaan.

Sebelumnya, Bangun Nawoko terlibat dalam operasi penanganan konflik di Papua dan pengamanan pemilu nasional, di mana ia dikenal sebagai pemimpin yang mampu membangun kepercayaan masyarakat melalui pendekatan soft power. Dengan mutasi ini, ia menjadi salah satu dari 286 perwira yang digeser, termasuk promosi Brigjen Taufiq Shobri menjadi Staf Ahli BIN, menandai era baru di bawah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

Visi Kepemimpinan: Sinergi, Humanis, dan Adaptif

Sebagai Pangdam Hasanuddin yang baru, Bangun Nawoko menekankan visi “TNI Prima”: profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif. Ia berjanji memperkuat sinergi dengan Polri dan masyarakat Sulawesi, terutama dalam menangani isu keamanan maritim di Selat Makassar dan pengembangan ekonomi desa melalui koperasi Merah Putih. “Kekuatan sejati bangsa lahir dari keteguhan moral, bukan kekerasan,” katanya, menggemakan semangat penghargaannya baru-baru ini. Di bawah kepemimpinannya, Kodam Hasanuddin diharapkan lebih fokus pada pelatihan prajurit berbasis teknologi, seperti drone pengawasan, sambil mempertahankan tradisi bela negara yang inklusif.

Ia juga menyoroti pentingnya kesejahteraan prajurit, mirip dengan inisiatif pendahulunya Windiyatno yang memimpin kenaikan pangkat 625 personel pada Oktober 2025 dan peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) TNI. Bangun Nawoko berencana melanjutkan tradisi ini dengan program humanis, seperti bantuan sosial di daerah rawan konflik.

Dampak Penunjukan: Harapan Baru bagi Wilayah Timur

Penunjukan Mayjen Bangun Nawoko sebagai Pangdam Hasanuddin datang di saat yang tepat, pasca-upacara pemakaman militer prajurit anumerta Lettu Inf Fauzy Ahmad Sulkarnaen pada 13 Oktober 2025, yang dipimpin Windiyatno. Transisi ini diharapkan membawa angin segar bagi Kodam yang bertanggung jawab atas pengamanan 4 provinsi dengan populasi lebih dari 20 juta jiwa. Masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya, menyambutnya dengan optimisme, melihatnya sebagai pemimpin yang bisa menjembatani militer dan sipil.

Dengan pengalaman Kostrad yang kaya, Bangun Nawoko bukan hanya komandan, tapi juga inspirator. Seperti yang dikatakan tokoh lokal, penghargaannya mencerminkan “keberanian menjaga kemanusiaan” di tengah tantangan geopolitik Indo-Pasifik. Di bawah kepemimpinannya, Kodam Hasanuddin siap menjadi benteng pertahanan yang lebih tangguh dan dekat dengan rakyat.

Mayjen Bangun Nawoko: sosok yang lahir dari medan tempur, dibentuk oleh disiplin militer, dan didorong oleh nilai humanis. Penunjukannya sebagai Pangdam Hasanuddin bukan akhir perjalanan, melainkan babak baru dalam pengabdiannya bagi NKRI. Semoga kepemimpinannya membawa kedamaian dan kemajuan bagi Sulawesi yang berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *